Imbas Kenaikan Kedelai, Produsen Tempe di Bontang Merugi

BONTANG——Naiknya harga kedelai sejak dua minggu terakhir membuat para produsen tempe di Bontang merugi.

Sutarji, salah satunya. Dia yang menjalani bisnis produksi tempe mengalami penurunan omset sebanyak 30 persen sejak harga kedelai naik dari Rp 8000 menjadi Rp 10000 ribu per kilogramnya.

“Turun 30 persen mas sejak harga kedelai melonjak naik,” ujar Sutarji, Kamis (08/01/2021) siang.

 

Kendati harga naik, pria yang sudah melakoni bisni produksi tempe selama 11 tahun itu tak ikut menaikkan harga jual ke pelanggannya. Hal itu dilakukan karena pelanggannya yang kebanyakan pemilik rumah makan kesulitan jika harga tempe dinaikkan.

Untungnya dia yang memproduksi tempe sebanyak 60 Kg perharinya selalu habis terjual karena sudah memiliki pelanggan tetap.

“Harga saya tidak berubah, tetap Rp 2500 per potong yang beratnya 1/4 kilogram,” pungkasnya

Senada, produsen lainnya Zainal Arifin yang memproduksi tempe di Kelurahan Guntung juga mengutarakan kerugian. Imbas dari kenaikan harga kedelai.

Dia memilih untuk tetap menjalankan produksinya, meski dengan resiko merugi akibat melambungnya harga bahan dasar tempe tersebut.

 

Akibatnya, Ia terpakasa memilih untuk mengurangi jumlah produksinya. Dari yang semula bisa mencapai 600 Kg dalam setiap harinya, kini menjadi 400-500 Kg.

Dia pun berharap, kedepan pemerintah bisa membina para industri rumahan tahu tempe sehingga ketika ada lonjakan harga bahan baku, para pengusaha tahu tempe bisa tetap menjalankan usahanya.

Sedangkan, untuk mengurangi ketergantungan terhadap kedelai import, Arif berharap pemerintah mengenalkan kedelai lokal dengan berbagai klasifikasinya. Sebab kualitas kedelai lokal menurutnya tidak kalah dengan kedelai import.

“Semoga pemerintah bisa segera memberikan solusi lah. Salah satunya mengurangi ketergantungan impor kedelai dan lebih memilih kedelai lokal,” harapnya

 

Penulis : Redaksi

Leave a Reply